Sukses UAN Februari 23, 2008
Posted by bangzenk in Tips.Tags: sukses UAN, Tips UAN, UAN 2008
5 comments
Terima kasih bagi adik-adik maupun teman-teman yang sudah bersedia mampir ke blog ini.
Pelaksanaan UAN yang kian dekat, membuat saya ingin bisa berbagi. Sukses UAN bukan hanya sekedar lulus ataupun nilai tinggi, definisi sukses seperti itu akan basi dan lapuk. Artinya, cobalah definisikan sukses UAN sebagai proses pencapaian cita-cita. Semoga dengan itu adik2 bisa tetap semangat. Manfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.
Beberapa saran untuk sukses UAN 2008:
1. Buat jadwal belajar mandiri,
selama ini saya tidak pernah mengikuti bimbel tertentu. Meskipun demikian, alhamdulillah sempat menjadi juara umum se-SD
, juga peringkat 18 se-SMP (seriusan..), terakhir lulus dengan hasil cukup memuaskan. Ya, biar nambah semangat adik2 nilai UAN/UNAS untuk Kimia 9,3.
2. Perbanyak latihan soal,
salahsatu yang utama adalah memahami medan, oleh karenanya panduan materi di postingan kemarin cukup signifikan menurut say untuk adik2 miliki dan pelajari. berdasarkan pengalaman, soal-soal yang ada tidak banyak berubah. Kalopun berubah tidak akan jauh dari dua hal: pertama, angka yang digunakan. kedua, hal yang ditanyakan. Umpamanya di panduan materi diketahui A dan B, kemudian ditanyakan C. Nah, klo di ujian bolehjadi yang diketahui B danC, yang ditanyakan A. Jadi, latihan soal insya Allah bisa banyak membantu juga memahami jenis2 soal yg bakalan keluar.
3. Fokus,
ini buat yang senang beraktivitas baik di organisasi maupun yang lain, sementara ini baiknya dikurangi (bukan dihilangkan sama sekali). Termasuk yang masih berpacaran, sudah saatnya bertaubat
, jangan bilang klo pacaran banyak memberikan semangat. Bohong besar, apalagi yang sering berantem. Fokus akan pentingnya kelulusan tentunya juga jangan jadi alasan untuk malas dalam hal lain, terutama membantu orang tua dan ibadah.
4. Belajar bersama,
kadang yang terakhir ini berujung pada nge-gosip. Berbeda jika adik2 mengkondisikan belajar bersama dengan sistem pembagian kerja. Dimana tiap orang memiliki kemampuan masing2 (saya yakin adik2 bisa tau, kecenderungan keahlian dari temen2 sekelas di masing2 bidang/matapelajaran) jadi bisa saling mengisi, terbukti efektif. Masalahnya komitmen dan kerja bersama aja itu mah..
Oke deh, semoga sukses UAN bukan sekedar impian. Selamat berjuang, saya tunggu adik2 di Belanda. Mari buktikan kita bukan bangsa kacangan.
Kajian Awal Februari 19, 2008
Posted by bangzenk in Tips.Tags: Tips Beasiswa di Luar Negeri
3 comments
Sumber: Koran Kompas http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0304/20/keluarga/263449.htm
Note: Tulisan ini ditulis sebagai hasil wawancara saat Workshop Milis Beasiswa di UNJ, Jakarta.
PADA era globalisasi di mana setiap orang mempunyai hak mendapatkan kehidupan yang lebih baik di seluruh muka Bumi, akan membuat persaingan pencari kerja semakin keras. Oleh karena itu, setiap orang harus membekali dirinya untuk bisa menang dalam mendapatkan pekerjaan, atau mampu membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri.
SALAH satu cara membekali diri adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas, baik di dalam ataupun di luar negeri. Namun, mendapatkan pendidikan yang berkualitas bukanlah yang mudah dan murah. Bagi orang berpunya, mereka akan mampu membiayai sendiri. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak punya cukup uang?
Salah satu jalan adalah beasiswa, namun untuk mendapatkannya juga bukan hal yang mudah. Ada ratusan bahkan ribuan orang berpotensi yang juga ingin mendapatkan beasiswa yang jumlahnya sangat terbatas.
Untuk mencoba beasiswa dari luar negeri, juga bukan hal mudah. Selain, karena harus bersaing dengan peminat dari negara-negara lain dan persyaratan yang tidak mudah, juga karena informasi mengenai beasiswa itu masih sedikit.
Beberapa yayasan pemberi beasiswa seperti AMINEF, memang mengiklankan di media massa. Namun, seringkali beasiswa yang ditawarkan tidak sesuai dengan minat yang ingin dikembangkan.
“Masalah informasi merupakan kendala terbesar saya untuk mendapatkan beasiswa. Saya yang bekerja di Papua, baru bisa membaca koran setelah satu minggu terbit. Jadi, persaingan belum dimulai, saya sudah harus menghadapi kendala dulu,” kata Togap Siagian (29), penerima beasiswa Fulbright 2000 dan pendiri kelompok kores- pondensi surat elektronik internet khusus beasiswa (http://groups.yahoo.com/group/beasiswa).
SEJAK pertama didirikan, 21 Maret 2000, Siagian memang sendirian mengelola mailing list itu. Dia menjadi moderator surat-surat yang masuk, baik berisi pertanyaan, informasi mengenai beasiswa di seluruh dunia, dan kiat memenangkannya.
“Orang Indonesia punya potensi memenangkan beasiswa, namun mereka menghadapi banyak kendala yang sebenarnya bisa diatasi dengan mudah. Karena tidak bisa mengatasi kendala itu, mereka kalah. Mailing list ini bertujuan membantu memberi informasi untuk siapa saja yang ingin mendapatkan kesempatan sekolah dengan beasiswa. Semacam wadah saling berbagi informasi dan pengalaman,” kata Siagian.
Sekarang, Siagian yang masih bekerja di Papua, sudah dibantu delapan moderator yang tersebar di Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Inggris, Jepang, Belanda, dan Amerika. Mereka menyortir, menjawab, menghapus surat elektronik yang tidak penting, dan memperingatkan pengirim surat yang tidak menjelaskan maksudnya dengan jelas. “Banyak peserta minta informasi tentang beasiswa untuk pendidikan master. Peserta ini tidak menjelaskan jenis pendidikan dan di mana. Kadang-kadang hal seperti ini menjengkelkan juga,” aku Siagian.
Para milister (peserta mailing list) semakin hari semakin bertam- bah. Saat ini, jumlah peserta mencapai 6.900 orang yang tersebar di seluruh dunia. Untuk menjadi anggotanya, cukup mengirim surat kosong ke alamat beasiswa-subscribe@yahoogroups.com. Yayasan pemberi beasiswa pun agaknya telah percaya dengan mereka, sehingga sering memberi informasi mengenai program beasiswa dari lembaga mereka.
SELAIN dari mailing list beasiswa, informasi beasiswa juga bisa didapat dengan tiga cara. Pertama, mendaftar ke badan pemberi beasiswa. Misalnya Yayasan Sampoerna, Aminef untuk beasiswa Fulbright, dan British Council untuk Chevening Award.
Kedua, peminat bisa langsung mendaftar ke universitas yang diinginkan. Peminat bisa berkores- pondensi langsung dengan profesor di universitas itu dan minta surat rekomendasi.
Ketiga, melalui penelitian. Biasanya jika seorang profesor atau universitas ingin melakukan penelitian besar, mereka membutuhkan asisten. Asisten ini akan dibayar, dan uangnya bisa dipakai biaya studi dan biaya hidup. Biasanya, mereka akan mendapatkan biaya studi lebih murah karena mereka bekerja untuk universitas. Lagi pula, proyek penelitian seperti ini akan memakan waktu minimal lima tahun, waktu yang cukup panjang untuk studi.
Dari ketiga cara mendapatkan beasiswa itu, hal terpenting yang harus dipegang peminat beasiswa adalah memenuhi syarat yang diminta. Jika memang diperlukan nilai TOEFL/IELTS (standar nilai kemampuan berbahasa Inggris), pastikan memilikinya. Begitu juga bila diperlukan syarat kecakapan matematik seperti GMAT, dan lainnya.
Menurut Pangesti Wiedarti, dosen Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta yang juga penerima beasiswa doktor di bidang linguistik Universiy of Sydney, sebaiknya peminat beasiswa mencari beasiswa tidak di satu universitas saja. “Carilah di beberapa universitas agar mendapatkan beasiswa yang benar-benar cocok,” ujar Pangesti.
Sidrotun Na’im, penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2003 me- ngatakan, peminat beasiswa dari Indonesia bagian timur memiliki peluang lebih besar daripada peminat Indonesia bagian barat. Sepertiga dari jatah beasiswa ADS yang ada diberikan untuk Indonesia timur. “Jika dilihat dari potensi dan kondisi Indonesia timur, peminat Indonesia timur memiliki peluang lebih besar,” kata Sidrotun.
Salathiel Gideon, penerima beasiswa S2 dari Yayasan Sampoerna mengatakan, dirinya menerapkan empat langkah strategis untuk memenangkan beasiswa itu.
Pertama, ketika memutuskan mendaftar beasiswa, dia membuat perencanaan. Apa saja yang harus dia lakukan untuk beasiswa tersebut. “Saya menentukan program apa yang akan saya ambil, lalu saya catat apa saja yang dibutuhkan jika saya mengambil program tersebut. Saya juga belajar membuat surat rekomendasi dan mempersiapkan diri untuk tes wawancara,” kata Gideon.
Kedua, Gideon melakukan tahap-tahap yang telah dia tentukannya dalam rencana. Dia mengakses situs Yayasan Sampoerna dan mencari tahu apa saja yang diminta. “Saya benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi tes tulis. Saya cari buku-buku yang bisa menjadi nara sumber. Kemudian, saya berdiskusi dengan pemberi rekomendasi. Selain itu, saya juga berkonsultasi dengan teman-teman yang pernah mendapatkan beasiswa,” kata Gideon.
Ketiga, mengecek apa yang telah dia lakukan. Gideon berulang kali melihat apa yang telah dia pelajari dan mencoba mengerjakan tes yang ada. Dia juga mengecek adakah persyaratan yang belum dia penuhi.
Keempat, mengecek ulang. Jika memang apa yang telah dia lakukan masih dirasakan kurang, Gideon tidak ragu-ragu mengulang. Begitu juga dengan surat rekomendasi. Jika, surat rekomendasi itu dirasa tidak membantu, lebih baik mencari rekomendasi lain. “Saya pertimbangkan benar, apakah surat rekomendasi itu sungguh-sungguh mengevaluasi diri saya dengan adil. Jika tidak, lebih baik saya cari rekomendasi lain,” tegas Gideon. (ARN)